Nasihati Pasangan Nikah, Kades Antonius Tak Pakai Uab Meto

Berita Desa306 Dilihat

Dalam suasana hangat di Aula Kantor Desa Manubelon pada Jumat (25/07/2025) ketika Pemerintah Desa (Pemdes) Manubelon di Kecamatan Amfoang Barat Daya, Kabupaten Kupang menggelar upacara terang kampung bagi lima pasangan suami istri, Kepala Desa (Kades) Manubelon, Antonius Tak, memberi nasihat menggunakan uab meto (bahasa daerah khas suku Timor bagian barat) dengan fasih, halus, dan kaya kiasan.

Padahal, saat ini, penguasaan uab meto yang baku, halus, dan arkaik telah menjadi seperti barang mahal bagi banyak generasi muda Timor yang tidak lagi mampu bertutur dalam bahasa ibu secara utuh.

Kades Antonius Tak, anak muda yang usianya belum menyentuh kepala empat ternyata bisa uab meto secara fasih, sekaligus memberi teladan bahwa nasihat dan petuah bijak bisa jadi penuh makna dan mudah meresapi pikiran jika disampaikan dalam bahasa ibu dengan cara yang baik dan benar.

Bahasa yang digunakan Kades Antonius Tak bukan sekadar bahasa sehari-hari, tapi uab meto yang kental dengan rasa adat, bahkan terkadang dibubuhi dengan peribahasa dan simbolisme yang menuntut pemahaman budaya yang dalam.

Kades Antonius Tak ketika menyampaikan nasihat yang sarat makna kepada pasangan Yupiten-Orpa, Apolos-Delti, Renol-Aris, Desim-Nori, dan Ayub-Yane menekankan pentingnya komunikasi dalam rumah tangga, menjaga perasaan pasangan, dan saling menghormati peran serta kontribusi keluarga besar dalam membangun relasi yang kokoh.

Pemerintah Desa Manubelon gelar upacara terang kampung bagi 5 pasangan nikah.

“Tahan tabua, tekut of namin.” demikian salah satu penggal kalimat yang diungkapkan Kades Antonius Tak. Sebuah kiasan sederhana namun sarat makna. Artinya, jika kita memasak bersama, maka nikmatnya makanan akan terasa.

Kades Antonius Tak ingin menggambarkan bahwa hidup rumah tangga harus dijalani dengan kebersamaan, kerja sama, dan cinta kasih yang dirawat.

Kades Antonius Tak tidak sendiri menggunakan uab meto. Ketua Lembaga Pemangku Adat (LPA) Desa Manubelon, Marten Balabi, serta Wakil Ketua BPD, Sefnat Pniel Takaeb, juga memilih menyampaikan pesan-pesan mereka dalam uab meto.

Mereka seolah ingin menegaskan, upacara terang kampung tak hanya seremonial, tetapi juga ruang pewarisan nilai-nilai budaya dan bahasa ibu yang mulai terpinggirkan.

Marten Balabi mengingatkan pentingnya komitmen terhadap kesepakatan adat serta bijak menempatkan urusan adat agar tidak menjadi beban ekonomi. Balabi juga menyarankan agar masyarakat tetap mempertahankan unsur budaya dalam pesta pernikahan, seperti penggunaan gong dan tarian adat.

Sementara Takaeb berpesan agar para suami kelak memperlakukan istri dengan penuh cinta dan kelembutan, serta menjadikan komunikasi sebagai pilar utama dalam rumah tangga.

Inti nasihat dari Takaeb: Kalau hati pasangan terluka, rumah tangga tidak akan damai.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, upacara terang kampung dihadiri pula oleh Kepala Desa Kolabe, Isak Obes dan Sekretaris Desa Faumes, Desem Taemnanu, yang masing-masing turut memberi nasihat kepada para pasangan nikah.

Sebagaimana dijelaskan oleh Sekretaris Desa Manubelon, Masry Jeky Ikeda Taneo, kelima pasangan ini telah lebih dulu menyelesaikan kewajiban adat dan akan mengikuti pemberkatan nikah gerejawi secara massal pada Minggu (27/07) sehingga Pemdes Manubelon merasa perlu untuk lebih dahulu mengesahkan dan meresmikan perkawinan adat melalui upacara terang kampung.

Setelah penandatanganan berita acara dan pembacaan maklumat adat oleh perangkat desa, acara ditutup dengan penyerahan berita acara kepada keluarga, serta uang pamitan untuk pasangan yang akan pindah domisili.

Di tengah upaya banyak desa yang mulai meninggalkan adat karena tekanan modernitas, Desa Manubelon justru menghadirkan contoh sebaliknya. Mereka tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga merawat bahasa sebagai identitas.

Dan, Kades Antonius Tak yang masih muda telah menggandeng para tetua untuk menunjukkan bahwa menjadi modern tidak harus menanggalkan akar. Karena di tengah zaman yang berubah cepat, mungkin yang paling revolusioner adalah yang tetap menjaga adat dan budaya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *